Kiat Bergaul Yang Baik
Jumat, 5 Sya’ban 1426 / 09 September 05 M
Ikhlash Kunci Sukses dalam Bergaul
Bergaul dengan orang lain hendaknya didasari dengan keinginan dan niat yang
benar. Kecintaan dan kebencian terhadap mereka; Melakukan sesuatu atau
membiarkannya; Dan berbuat sesuatu atau tidak, jika dilakukan karena Allah
subhanahu wata’ala dan di atas keyakinan menjalankan perintah Allah
subhanahu wata’ala, maka kita akan memperoleh kebahagiaan ketika bergaul
dengan siapa saja.
Berkaitan dengan ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menyebutkan dengan
ungapan yang indah “Kebahagiaan dalam bergaul dengan orang akan diraih jika
engkau bergaul dengan mereka karena Allah, engkau mengharapkan ridha Allah
dan tidak mengharapkan ridha mereka, engkau takut kepada Allah dan tidak
takut kepada mereka, engkau berbuat baik kepada mereka karena mengharap
pahala dari Allah dan tidak balasan dari mereka, engkau tidak menzhalimi
mereka karena takut kepada Allah dan tidak takut kepada mereka. Sebagaimana
disebutkan juga di dalam sebuah atsar, “Berharaplah pahala kepada Allah
dalam urusan manusia, dan jangan berharap balasan kepada manusia dalam
urusan Allah. Takutlah pada Allah dalam urusan manusia dan jangan takut
kepada manusia dalam urusan Allah.”
Maksudnya adalah,”Janganlah engkau melakukan suatu bentuk ibadah dan
pendekatan diri kepada Allah subhanahu wata’ala karena mereka, menginginkan
pujian mereka, dan karena takut kepada mereka, namun berharaplah balasan
dari Allah. Dan janganlah takut kepada manusia dalam urusan Allah, baik
dalam hal yang engkau kerjakan atau yang engkau tinggalkan. Bahkan kerjakan
apa saja yang telah diperintah kan kepadamu meskipun mereka membencinya.”
Ketika Bertemu dengan Orang
Seseorang akan sering bertemu dengan orang lain, baik di masjid, di jalan,
di tempat kerja, di rumah atau tempat-tempat lainnya. Bagaimana seharusnya
sikap dia manakala berjumpa dengan seseorang? Para Salaf telah memberikan
suri teladan yang sangat agung berkenaan dengan hal ini.
Abdur Rahman bin Mahdi berkata, “Disebutkan bahwa jika seseorang bertemu
dengan orang lain yang lebih tinggi ilmunya, maka itu adalah hari ghanimah
baginya (untuk mengambil ilmunya, red), dan jika bertemu dengan orang yang
semisal (setingkat), maka ia belajar bersama dan belajar juga darinya, jika
bertemu dengan yang di bawahnya, maka ia bersikap tawadhu’ (rendah hati)
dan mengajarinya.
Menyikapi Orang yang Keliru dalam Mencari Kebenaran.
Maka apabila ada seseorang yang telah berijtihad untuk mencari kebenaran
yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian dia salah dalam
ijtihadnya, maka dia diampuni berdasarkan ayat tersebut di atas. Demikian
juga jika seorang alim telah mengerahkan kemampuannya untuk mencari
kebenaran yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian
dia salah dalam sebagian masalah i’tiqad (keyakinan), maka dia tidak
divonis dengan bid’ah dan tidak dihajr (dikucilkan/ditinggalkan) disebabkan
kesalahannya. Meskipun ucapan atau pendapatnya adalah ucapan yang bid’ah,
namun itu tidak mengharuskan dia divonis mubtadi’ (ahli bid’ah).
Sebagaimana terhadap ucapan kufur, tidak mengharuskan pengucapnya divonis
kafir, maka demikian juga tidak mengharuskan divonis sebagai pelaku bid’ah
bagi orang yang mengucapkan perkataan bid’ah, kecuali jika syarat-syarat
telah terpenuhi dan tidak ada lagi faktor penghalang jatuhnya vonis
tersebut.
Oleh karena itu seorang ulama yang sudah dikenal kebaikannya dan
kesungguhannya di dalam mencari kebenaran, kemudian dia keliru dalam satu
masalah tertentu dan terjerumus dalam satu kebid’ahan, maka tidak boleh
kita katakan sebagai pelaku bid’ah. Kita jelaskan bahwa beliau salah dalam
hal tersebut, atau dalam masalah itu dia mencocoki firqah fulaniyah
(kelompok tertentu), namun dia bukan golongan mereka dan juga tidak
memegang keyakinan mereka .
Namun demikian, meskipun dia dimaafkan, karena telah berusaha maksimal
mencari yang benar, kita tetap mengatakan bahwa pendapatnya adalah keliru
atau bid’ah, lalu kita harus meninggalkan pendapat tersebut dan mengambil
pendapat para ulama lainnya yang lebih selamat. Berbeda halnya dengan orang
yang mengambil agamanya dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka
orang tersebut adalah seorang mubtadi’ (pelaku bid’ah) dalam pengambilan
sumber, dalam ucapan dan i’tiqad (kayakinan).
Menggunjing Orang Lain adalah Penyakit dan Menyebut Allah adalah Obat
Maka orang yang berakal akan selalu memerangi nafsunya, dan selalu
memikirkan ayat-ayat dan hadits tentang penjagaan lisan dari kesia-siaan,
senantiasa mengutamakan dzikir sehingga dia akan terus disibukkan dengan
sesuatu yang mendatangkan kebaikan di dunia dan di akhirat.
Memberikan Penghargaan kepada yang Berhak Mendapatkannya
Pilar ini tidak jauh dengan pilar keadilan dan obyektif ketika menyebut kan
orang lain, akan tetapi yang dimaksudkan di sini adalah terbatas pada hal
hal yang menjadi kekhususan dia dari orang selainnya. Karena di antara
orang ada yang menonjol dalam ilmunya, ada pula dalam jihadnya, dalam
dakwah dan selainnya.